Sabtu, 19 Maret 2022

Makalah Pendidikan di Era Indsutri 4.0

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan penulis berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi penulis sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

Makassar, September 2022  



                                            Penulis












DAFTAR ISI

 

JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

B.     Rumusan Masalah

C.     Tujuan Penulisan

BAB II. PEMBAHASAN

A.    Pengertian Era Refolusi Industri 4.0

B.     Kurikulum  Pendidikan Era Refolusi 4.0

C.     Prinsip Pembelajaran Pendidikan Era Refolusi 4.0

D.    Tantangan dan Peluang Pendidikan di Era Refolusi 4.0

E.     Manajemen Kelas dalam Pendidikan di Era Refolusi 4.0

BAB III. PENUTUP

A.    Kesimpulan

B.     Saran

DAFTAR PUSTAKA






BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Revolusi industri merupakan suatu perubahan besar di bidang teknologi yang menyebabkan perubahan di bidang lainnya. Revolusi industri dimulai pada tahun 1750 dan biasa disebut revolusi industri 1.0 ketika ditemukan mesin uap. Revolusi industri 2.0 dimulai ketika adanya pergantian penggunaan mesin uap ke mesin yang menggunakan tenaga listrik. Revolusi industri 3.0 dimulai ketika proses produksi sudah menggunakan mesin yang mampu bergerak dan dikontrol, mulai digunakannya robot sederhana, hingga penggunaan komputer (Putriani & Hudaidah, 2021).

Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia (Kosturos, 2012). Dalam UU No. 20 Tahun 2003 mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengambangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara” (Sofian, 2019) dalam (Putriani & Hudaidah, 2021) .

Keberhasilan suatu negara dalam menghadapi revolusi rndustri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter (Rahman & Nuryana, 2019).

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali, Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Pendidikan 4.0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0 di mana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif (Rahman & Nuryana, 2019).

Selain itu  Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan industri dan pelaku ekonomi di masa yang akan datang. Kurikulum semestinya dirancang bersinergi antara pemerintah, industri dan pendidikan. Sinergi dilakukan untuk penyusunan kurikulum yang link and match antara lembaga pendidikan dengan industri, materi kurikulum yang selalui diperbarui sesuai kebutuhan industri serta memuat kompetensi yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri. Para pembuat kebijakan perlu mengikut sertakan industri untuk terlibat dalam proses pendidikan, khususnya dalam menyusun kurikulum agar kompetensi capaian dalam kurikulum selaras dengan kebutuhan, menekankan pentingnya inovasi di era revolusi industri sesuai perkembangan teknologi yang semakin pesat. Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, diperlukan keterlibatan publik-swasta-masyarakat, pola pikir baru, pengembangan jaringan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan dosen dan mahasiswa, serta pemanfaatan teknologi (Wardina et al., 2019).

Oleh karena era industry 4.0 menuntut kompetisi global maka kita harus mempersiapkan mental dan skill yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari lainnya. Salah satu bentu umtuk mempersiapkan skill yang paling mudah ditempuh adalah mempunyai perilaku yang baik (behavioral attitude), menaikan kompetensi diri dan memiliki semangat literasi. Bekal persiapan diri tersebut dapat dilalui dengan jalur pendidikan (long life education) dan konsep diri melalui pengalaman bekerjasama lintas generasi/ lintas disiplin ilmu (experience is the best teacher). McKinsey (2006). Maka yang penting diperhatikan adalah bahwa suatu sistem pendidikan beserta semua unsur pendukungnya harus dibangun guna menyiapakan peserta didik sebagai pribadi yang siap pakai pada posisi tertentu (dalam Yakin, 2019).

Sistem pendidikan di era industry 4.0 juga memperngaruhi perubahan tempat belajar, yakni transisi dari era analog ke era digital, juga dianggap penting. Di era digital, lingkungan belajar harus diselaraskan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya internet dan cybernet, yang memungkinkan pemelajarbelajar secara mandiri, dinamis dan tidak terikat oleh hanya satu tempat dan satu sumber belajar, bahkan tidak tergantung pada guru pengajarnya saja, tetapi siswa dapat belajar dari banyak guru, berbagai sumber di dunia maya.Sistem manajemen kelas guru dengan lingkungan digital menyebabkan guru menerapkan konsep multy channel learning yang memperlakukan siswa sebagai pemelajardinamis yang dapat belajar dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, dari berbagai sumber di mana saja. Kompetensi guru sebagai fasilitator mendukung siswa dalam belajar sesuai dengan tuntutan digital di dunia industry 4.0. (Bastian, Aulia Reza.:2002). Hal ini juga tentu memperngaruhi dunia pendidikan sehingga orientasi mengajar guru berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan masyarakat digital dewasa ini (dalam Yakin, 2019).

 

B.     Rumusan Masalah

1)      Apa pengertian era refolusi industri 4.0 ?

2)      Apa saja kurikulum  pendidikan era refolusi 4.0.

3)      Apa saja prinsip pembelajaran pendidikan era refolusi 4.0.

4)      Apa saja tantangan dan peluang pendidikan di era refolusi 4.0.

5)      Apa saja manajemen kelas dalam pendidikan di era refolusi 4.0.


C.    Tujuan Penulisan

1)      Mengetahui dan memahami pengertian era refolusi industri 4.0.

2)      Mengetahui dan memahami kurikulum  pendidikan era refolusi 4.0.

3)      Mengetahui dan prinsip pembelajaran pendidikan era refolusi 4.0.

4)      Mengetahui dan memahami tantangan dan peluang pendidikan di era refolusi 4.0.

5)      Mengetahui dan memahami manajemen kelas dalam pendidikan di era refolusi 4.0.










BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Era Refolusi Industri 4.0

Konsep revolusi industri 4.0 ini merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Beliau merupakan ekonom terkenal asal Jerman sekaligus penggagas World Economic Forum (WEF) yang melalui bukunya, The Fourth Industrial Revolution, menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain.9 Richard Mengko, yang mengutip dari A.T. Kearney dalam Stevani Halim (Medium, 2018),10 menggambarkan empat tahap evolusi industri. Pertama, Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Hal ini ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Kedua, Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Ketiga, Awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0 yang dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Terakhir, 2018 hingga sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 (Rahman & Nuryana, 2019).

Revolusi Industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Termasuk sistem cyber-fisik, Internet of Things (IoT), Komputasi awan dan komputasi kognitif. konselir Jerman, (Humaidi, 2019) berpendapat bahwa Industri 4.0 adalah transformasi  komprenhensif dari kesuluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Menurut (Mubyarto & Sohibien, 2020) bahwa Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah era industri digital dimana seluruh bagian yang ada di dalamnya saling berkolaborasi dan berkomunikasi secara real time dimana saja kapan saja dengan pemanfaatan IT (teknologi informasi) berupa internet dan CPS, IoT dan IoS guna menghasilkan inovasi baru atau optimasi lainnya yang lebih efektif dan efisien (Putriani & Hudaidah, 2021).

(Nulngafan & Khoiri, 2021) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin (Putriani & Hudaidah, 2021).

Ciri ciri Era Revolusi industri 4.0 adalah pertama robot outomation yaitu artinya proses produksi tidak lagi mengandalkan massa (jumlah manusia) namun digantikan dengan sistem robot. Hal ini dikarenakan dengan sistem robot dapat lebih bekerja efektif dan efisien dibandingan jika diakukan oleh manusia. Ciri ke dua adalah 3D printer yang memungkin mencetak tidak lagi hanya untuk object 2D namun sekarang rumah pun sudah dapat dicetak menggunakan mesin 3D printer. Ciri ke tiga adalah internet of thing yaitu kecepatan yang dikendalikan oleh internet. Saat ini semua pekerjaan hampir semua terhubung dengna koneksi internet.  Ciri ke empat adalah big data. Pernahkah kita disodori oleh iklan mengenai barang barang kesukaan kita? Bagaimana sistem itu tahu karena terdapat sebuah data yang mengkoleksi informasi kita (Kosturos, 2012).

   Pendidikan 4.0 adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0. Pendidikan 3.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan lunak.22  Pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern.

Abad ke-21 sebagai abad keterbukaan atau globalisasi. Karena itu, muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi 21st century skills, yakni:

1)      Pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi,

2)      Keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT.

3)      Karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab.

 

B.     Kurikulum  Pendidikan Era Refolusi 4.0

Revolusi Industri 4.0 mengaitkan teknologi yang super cepat akan membawa perubahan yang cukup signifikan, salah satunya terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan dalam sistem pendidikan tentunya akan berdampak pula pada rekonstruksi kurikulum, peran guru sebagai tenaga pendidik dan pengembangan teknologi pendidikan yang berbasis ICT. Ini adalah tantangan baru untuk merevitalisasi pendidikan, guna menghasilkan orang-orang cerdas, yang kreatif dan inovatif serta mampu berkompetisi secara global. Banyak kajian mengemukakan bahwa implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian, namun hanya berkisar pada target pencapaian kompetensi peserta didik yang digambarkan pada nilai-nilai akademik semata (Kosturos, 2012).

Menurut (Sajidan, baedhowi, triyanto, salman A.T, 2018) penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum menjadi fokus pertama penyelesaian ‘pekerjaan rumah dalam bidang pendidikan. Kebijakan kurikulum harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Mengedepankan ‘soft skills’ dan ‘transversal skills’, keterampilan hidup, dan keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademis tertentu. Namun, bermanfaat luas pada banyak situasi pekerjaan layaknya kemampuan berpikir kritis dan inovatif, keterampilan interpersonal, warga negara yang berwawasan global, dan literasi terhadap media dan informasi yang ada (Putriani & Hudaidah, 2021).

Sudah waktuya kurikulum di review dan secara bertahap mengembangkan kurikulum pendidikan yang mampu mengarahkan dan membentuk peserta didik siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Sains, Technology, Engineering and Mathematic atau STEM. Kurikulum sudah harus mengacu pada pembelajaran dalam teknologi informasi, internet of things, big data dan komputerisasi, serta entrepreneurship dan internship. Ini perlu menjadi kurikulum wajib guna menghasilkan lulusan terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia (Putriani & Hudaidah, 2021).

Revolusi industri 4.0 memberikan pengaruh yang besar pada berbagai bidang, namun tidak untuk tiga bidang profesi berikut, yaitu bidang pendidikan (guru), bidang kesehatan (dokter, perawat) dan kesenian (seniman). Peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, "orang tua" di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi (Kosturos, 2012).

Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Karena itu, selain pendapat Wahyuni (2018) dan Latip (2018) sebagaimana dijelaskan sebelumnya, menurut hemat penulis sikap atau skill lainnya yang perlu dimiliki guru dalam menghadapi era Industri 4.0, adalah antara lain dalam (Kosturos, 2012):

1.      Bersahabat dengan Teknologi

Dunia selalu berubah dan berkembang ke level yang lebih tinggi, salah satu perubahannya ditandai oleh kemajuan teknologi. Setiap orang tidak akan mampu melawan kemajuan teknologi, karena itu agar tidak tergilas olehnya, guru wajib memiliki kemauan untuk belajar terusmenerus. Perubahan dunia oleh kemajuan teknologi tidak perlu dijadikan sebagai ancaman, namun dihadapi dengan positif, belajar dan beradaptasi, serta mau berbagi dengan teman sejawat atau kolega baik kesuksesan maupun kegagalan.

2.      Kerjasama (Kolaborasi)

Hasil yang maksimum akan sulit dicapai bila dikerjakan secara individu tanpa kerjasama atau berkolabrasi dengan orang lain. Karena itu, guru harus memiliki kemauan yang kuat untuk berkolaborasi dan belajar dengan dan atau dari yang lain. Sikap ini sangat diperlukan sekarang dan di masa yang akan datang. Melakukannya pun tidak terlalu sulit, karena dunia sudah saling terhubung, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berkolaborasi dengan yang lain. 

3.      Kreatif dan Mengambil Risiko

Kreativitas adalah salah satu skill yang diperlukan pada Top 10 Skill 2020, kreativitas akan menghasilkan sebuah struktur, pendekatan atau metode untuk menyelesaikan masalah dan menjawab kebutuhan. Guru perlu memodelkan kreativitas ini dan berupaya lebih cerdas bagaimana kreativitas ini diintegrasikan ke dalam tugas-tugas kesehariannya. Para pendidik juga tidak perlu terlalu takut salah, namun selalu siap menghadapi risiko yang muncul. Kesalahan adalah langkah awal dalam belajar, dan tidak perlu menjadi faktor penghambat untuk terus maju, kesalahan adalah untuk terus diperbaiki.

4.      Memiliki selera Humor yang Baik

Guru yang humoris biasanya guru yang paling sering diingat oleh murid. Tertawa dan humor dapat menjadi skill penting untuk membantu dalam membangun hubungan dan relaksasi dalam kehidupan. Ini akan mengurangi stress dan rasa frustasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat kehidupan dari sisi lain. 

5.      Mengajar secara Utuh (Holistik)

Dalam berbagai teori belajar dan pembelajaran kita mengenal pembelajaran individual dan kelompok. Dan, akhir-akhir ini, gaya belajar dan pembelajaran yang bersifat individu, semakin meningkat. Karena itu, guru jaman now perlu mengenali siswa secara individu, termasuk keluarganya dan cara mereka belajar (mengenalnya secara utuh, termasuk kendala-kendala yang dialaminya baik secara pribadi maupun di dalam keluarganya).

 

C.    Prinsip Pembelajaran Pendidikan Era Refolusi 4.0

Prinsip pokok pembelajaran 4.0 dapat dikembangkan dan dijelaskan sebagai berikut (Putriani & Hudaidah, 2021)

Ø  Instruction should be student-centered 

Pengembangan pembelajaran semestinya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalahmasalah nyata yang terjadi di masyarakat. 

Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. 

Ø  Education should be collaborative 

Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orangorang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik. 

Ø  Learning should have context 

Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.  

Ø  Schools should be integrated with society 

Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.

 

D.    Tantangan dan Peluang Pendidikan di Era Refolusi 4.0

Pendidikan adalah sektor yang dianggap paling bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depannya, bagaimanapun bentuknya. Pada masa yang akan datang, tantangan hidup tidak akan mudah, bahkan semakin susah. Susah dalam artian penuh tantangan dan persaingan. Dalam kaitannya dengan perubahan kehidupan global yang semakin cepat, diperlukan langkah-langkah antisipatif oleh pemerintah melalui pengembangan kurikulum yang didasari oleh kondisi-kondisi internal maupun eksternal. Persiapan untuk sukses di era revolusi industri 4.0 dan era disruptif tersebut telah dilaksanakan oleh pemerintah melalui jalur pendidikan, seperti terdapat dalam kurikulum (Malingkas, 2019). Contoh di perguruan tinggi, setiap lulusannya harus memiliki minimal empat kompetensi, yaitu academic knowledge, skills of thinking,  management skills, serta  communication skills (Siswati, 2019).

Keempat kompetensi tersebut menyatu dalam diri seorang lulusan perguruan tinggi. Jika tidak lengkap, maka akan berpengaruh terhadap kualitas diri lulusan tersebut.  Demikian juga dengan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) dan pendidikan menengah (SMA/SMK). Pemberlakuan Kurikulum 2013 dengan ciri utamanya scientific approach dan pengalaman belajar 5M, terdapat ruang yang cukup untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam pembelajaran. Dalam learning experiences dengan pola lima “M” terdapat “M” mengkomunikasikan yang berarti siswa dimotivasi dan didorong untuk aktif menyampaikan pertanyaan, pandangan serta ide-ide terkait permasalahan yang sedang dicarikan solusinya dalam pembelajaran. Dalam standar proses pelaksanaan pembelajaran Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa pembelajaran harus bersifat interaktif. Hal tesebut berati bahwa terjalin komunikasi yang efektif dalam pembelajaran (Siswati, 2019).

Terlihat bahwa di masa datang, apapun nama eranya akan sangat membutuhkan manusia yang memiliki keterampilan komprehensif, baik hard skills, soft skills, dan life skills yang termasuk didalamnya adalah keterampilan berkomunikasi dan public speaking (Yahya, 2018). Tugas-tugas yang memerlukan keahlian berpikir (expert thinking) dan komunikasi yang kompleks (complex communication) menjadi sangat penting bagi setiap orang di masa depan (Levy and Murnane, 2004) dalam (Siswati, 2019).

Satu lagi yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan adalah pendapat Wagner (2008) yang mengungkapka ada tujuh keterampilan abad 21 yang harus dimiliki (The Survival Skills for 21 Century) (Siswati, 2019), yaitu:

(1) Critical thinking and problem solving

(2) Collaboration

(3) Agility and adaptability

(4) Initiative and enterpreneurialism

(5) Effective oral and written communication

(6) Accessing  and analyzing information dan

(7) Curiosity and imagination.

Tantangan revolusi industri 4.0 sebagai berikut:

(1) Masalah keamanan teknologi informasi

(2) Keandalan dan stabilitas mesin produksi

(3) Kurangnya keterampilan yang memadai

(4) Keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan

(5) Hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.

Muatan pembelajaran abad 21 harus selalu menyesuaikan dengan perubahan, termasuk di era revolusi industri 4.0. Muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 (Kusumah, 2019) . Keterampilan abad 21 (21 century skills) tersebut meliputi dalam (Siswati, 2019):

(1)   Pembelajaran dan keterampilan inovasi, meliputi penguasan pengetahuan dan

keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi.

(2)   Keterampilan literasi digital, meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi teknologi komputer.

(3)   Karier dan kecakapan hidup, meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab.


E.     Manajemen Kelas dalam Pendidikan di Era Refolusi 4.0

Manajemen kelas menurut beberapa ahli sebagai berikut: “manajemen kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efesien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Djamarah dan Zain (2017:173). Selanjutnya, Suparta, et.all. (2002:205) mengatakan bahwa manajemen kelas adalah usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan berhasil. Sedangkan Simonsen et.all.(2008), mengatakan bahwa manajemen kelas yang baik memiliki limaaspek, yaitu memaksimalkan struktur, membuat dan menerapkan harapan, melibatkan siswa secara aktif, menggunakan rangkaian strategi untuk memperkuat dan melemahkan perilaku siswa. Kelima aspek ini penting diterapkan agar tercipta suasana kondusif dalam belajar (dalam Yakin, 2019).

Senada dengan beberapa pengertian tersebut, Wiyani (2013:59) berpendapat bahwa “Manajemen kelas adalah keterampilan guru sebagai seorang leader sekaligus manajer dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk meraih keberhasilan kegiatan belajar-mengajar. Sebagai seorang leader di kelas, guru berupaya memotivasi peserta didik serta menanamkan nilainilai kebaikan yang harus diyakini dan diaplikasikan oleh peserta didik” (dalam Yakin, 2019).

Adapun tujuan manajemen kelas adalah: 

a)      Memudahkan kegiatan belajar peserta didik.

b)      Mengatasi hambatan-hambatan yang menghalangi terwujudnya interaksidalamkegiatan

belajar mengajar.

c)      Mengatur berbagai penggunaan fasilitas belajar.

d)   Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan berbagai latarbelakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

e)  Membantu peserta didik belajar dan bekerja sesuai dengan potensi dankemampuan yang dimilikinya.

f)   Menciptakan suasana sosial yang baik di dalam kelas.Rusydie (Wiyani, 2013:61) (dalam Yakin, 2019)

Ada beberapa acuan untuk mewujudkan manajemen kelas yang efektif yaitu:

a)      Mengkaji bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan.

b)      Mengakaji bentuk-bentuk pengelolaan kelas.

c)    Memperhatikan hal-hal pengelolaan kelas terkait dengan pemberian danmembangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, mengembangkankeaktifan dalam pembelajaran, keterlibatan langsung peserta didik,pemberian pengulangan, pemberian tantangan belajar, pemberian balikandan penguatan, serta perbedaan individual siswa.

d)     Mengidentifikasikan permasalahan dan hambatan.

e)      Membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencarialternatif pemecahannya.

f)       Menyusun rencana kerja. Agung (2010: 57) (dalam Yakin, 2019)

Tantangan era industri 4.0 mengakibatkan guru semakin kompetitif dan meningkatkan kompetensinya dalam juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas.  Salah satu kualitas yang diperhitungkan agar dapat menjadi guru digital yatu dengan menerapkan kelas digital dalam proses pembelajarannya. Kelas digital adalah pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet dan teknologi digital lainnya dalam persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran baik oleh guru, siswa, maupun orang tua siswa sehingga antar pembelajar tidak harus secara fisik mengikuti pembelajaran di dalam kelas (dalam Yakin, 2019).

Jenis-Jenis Pengelolaan Kelas Digital sebagai berikut: 

a)      Learning Management System (LMS)

LMS adalah suatu perangkat lunak atau software untuk keperluan administrasi, dokumentasi, laporan sebuah kegiatan, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan secara online (terhubung ke internet), E-learning dan materi-materi pelatihan.  

b)      Learning Content Management System (LCMS)

LCMS adalah aplikasi komputer yang digunakan untuk membuat, memperbaharui, mengelola atau mempublikasikan isi dalam sebuah sistem yang teroganisir dan konsiten yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. LCMS digunakan untuk menyediakan, mengawasi, memperinci dan mempublikasikan dokumen-dokumen spesifik seperti artikel, manual operator, manual teknis, panduan penjualan dan brosur penjualan. Sebuah LCMS dapat berisi file komputer, gambar, audio, video, dokemen elektronik dan isi website.

c)      Social Learning Network (SLN)

SLN adalah jejaring sosial untuk pembelajaran yang terjadi pada skala yang lebih luas daripada kelompok belajar. Mengingat skala sosialnya yang lebih besar, media ini bagi sebagian peserta dapat menyebabkan perubahan sikap dan perilaku, sedangkan bagi sebagian yang lain tidak menimbulkan dampak apa-apa. Pengelolaan kelas digital yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran adalah SLN (Social Learning Network) seperti Sophia, Remix Learning, Schoology, dan Edmodo (dalam Yakin, 2019).

Wujud kelas digital yang diimplementasikan dalam pembelajaran telah dirumuskan oleh SEAMOLEC (SEAMEO Regional Open Learning Centre) yaitu:

Ø  Pembuatan Buku Digital (kombinasi teks, video, dan gambar pada halaman tertentu buku)

Ø  Aplikasi Sistem dalam kelas misal: Edmodo, Gnomio, google classroom.

Ø  Vicon (video conference) dari HP/Laptop antar guru dengan Webex Kelas digital memerlukan perubahan budaya yang mendasar pada sekolah sehingga harus dilakukan secara bertahap.

Tahap awal adalah pembuatan soal bersama oleh guru atau dosen untuk ulangan harian yang mengacu pada prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dengan menggunakan internet (menggunakan aplikasi) soal ulangan dapat diset sesuai dengan waktu yang diinginkan, misalnya soal dibuka jam 08.00 s.d. 21.00 selama 5 hari. Soal teracak secara otomatis dan dapat di kerjakan oleh siswa di seluruh Indonesia maupun di luar negeri dimana internet bisa diakses. Disamping guru dan siswa orang tua juga bisa melihat aktivitas yang dilakukan anak (soal yang telah dikerjakan dan nilai yang didapat) di Edmodo. Tahap ini merupakan langkah awal untuk menanamkan budaya ICT (Information and Communication Technology) (dalam Yakin, 2019)

Selanjutnya guru dapat membuat materi pelengkap buku teks kemendikbud dalam bentuk digital (kombinasi teks, video dari hp dan gambar) ketika menyusun RPP kemudian di upload sehingga guru-guru yang lain bisa mengkombinasikan. Buku digital ini juga bisa mengambil sumber dari Rumah Belajar ataupun sumber lain. Dengan menggunakan fasilitas Webex guru dapat melakukan vicon (video conference) dari HP atau laptop dimana guru bisa saling melihat video mereka, mendengar suara, dan melakukan tanya jawab. Vicon dapat meminimalisir pertemuan secara langsung yang memerlukan waktu dan tempat, pertemuan bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan menggunakan vicon (dalam Yakin, 2019).




BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Pendidikan di era revolusi industri 4.0 dipandang sebagai pengembangan tiga kompetensi besar abad ke-21, yakni kompetensi berpikir, bertindak dan hidup di dunia. Sistem pembelajaran pada masa revolusi 4.0 yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, dengan beberapa aspek dan komponen pembelajaran pendidikan 4.0. Untuk menghadapi pembelajaran di revolusi industri 4.0, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Kelas digital dapat dijadikan solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat lebih fleksibel  dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. Kompetensi guru dalam penguasaan TIK masih sangat terbatas, sehingga perlu dirancang suatu pelatihan kelas digital (digital class) bagi guru dan dosen. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan dan melatih guru dan dosen dalam menggunakan pembelajaran kelas maya atau kelas digital(digital class) dalam proses pembelajaran.  Kelas digital (digital class) dapat dimanfaatkan guru baik dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi proses pembelajaran tanpa harus bertatap muka baik dengan teman sejawat maupun siswa.







DAFTAR PUSTAKA

 

dalam Yakin, A. Al. (2019). Manajemen Kelas di Era Industri 4.0. Journal Peqguruang: Conference Series, 1(2), 9–12. http://journal.lppm-unasman.ac.id/index.php/peqguruang/article/view/328

Kosturos, N. (2012). What Drives Russia’s Unrelenting Position on Syria? Center for American Progress, 1. https://www.academia.edu/38353914/Analisis_Pendidikan_Indonesia_di_Era_Revolusi_Industri_4.0.pdf

Putriani, J. D., & Hudaidah. (2021). Penerapan Pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4 . 0. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(3), 831–838.

Rahman, A., & Nuryana, Z. (2019). Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0. 34–0. https://doi.org/10.31219/osf.io/8xwp6

Siswati, S. (2019). Pengembangan Soft Skills Dalam Kurikulum Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 17(2), 264. https://doi.org/10.31571/edukasi.v17i2.1240

Wardina, U. V., Jalinus, N., & Asnur, L. (2019). Kurikulum Pendidikan Vokasi Pada Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Pendidikan, 20(1), 82. https://doi.org/10.33830/jp.v20i1.843.2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Pendidikan di Era Indsutri 4.0

  KATA PENGANTAR   Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga...