KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini banyak mengalami kendala,
namun berkat bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak sehingga
kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi pembaca. Bahkan penulis berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa
pembaca implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi penulis sebagai
penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini
karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.
Makassar, September 2022
Penulis
DAFTAR
ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Era Refolusi Industri 4.0
B. Kurikulum Pendidikan Era Refolusi 4.0
C. Prinsip Pembelajaran Pendidikan Era Refolusi 4.0
D. Tantangan dan Peluang Pendidikan di Era Refolusi 4.0
E. Manajemen Kelas dalam Pendidikan di Era Refolusi 4.0
BAB
III. PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Revolusi industri
merupakan suatu perubahan besar di bidang teknologi yang menyebabkan perubahan
di bidang lainnya. Revolusi industri dimulai pada tahun 1750 dan biasa disebut
revolusi industri 1.0 ketika ditemukan mesin uap. Revolusi industri 2.0 dimulai
ketika adanya pergantian penggunaan mesin uap ke mesin yang menggunakan tenaga
listrik. Revolusi industri 3.0 dimulai ketika proses produksi sudah menggunakan
mesin yang mampu bergerak dan dikontrol, mulai digunakannya robot sederhana,
hingga penggunaan komputer (Putriani & Hudaidah, 2021).
Saat ini dunia telah
memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya
konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan
artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia,
mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu
berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap
sistem pendidikan di Indonesia (Kosturos, 2012). Dalam UU No. 20
Tahun 2003 mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengambangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara”
(Sofian, 2019) dalam (Putriani & Hudaidah, 2021) .
Keberhasilan suatu negara
dalam menghadapi revolusi rndustri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari
pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan
beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini,
setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru
dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan
matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi
data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk
membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital.
Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika
dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni
kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter (Rahman & Nuryana, 2019).
Untuk menghadapi era
revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi
kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya
dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan
yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah
zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali, Indonesia pun perlu meningkatkan
kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Pendidikan
4.0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0 di mana manusia dan
teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif
dan inovatif (Rahman & Nuryana, 2019).
Selain itu Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan
industri dan pelaku ekonomi di masa yang akan datang. Kurikulum semestinya
dirancang bersinergi antara pemerintah, industri dan pendidikan. Sinergi
dilakukan untuk penyusunan kurikulum yang link and match antara lembaga
pendidikan dengan industri, materi kurikulum yang selalui diperbarui sesuai
kebutuhan industri serta memuat kompetensi yang diperlukan untuk memasuki dunia
kerja, dunia usaha, dan dunia industri. Para pembuat kebijakan perlu mengikut
sertakan industri untuk terlibat dalam proses pendidikan, khususnya dalam menyusun
kurikulum agar kompetensi capaian dalam kurikulum selaras dengan kebutuhan,
menekankan pentingnya inovasi di era revolusi industri sesuai perkembangan
teknologi yang semakin pesat. Dalam menghadapi revolusi industri 4.0,
diperlukan keterlibatan publik-swasta-masyarakat, pola pikir baru, pengembangan
jaringan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan dosen dan mahasiswa,
serta pemanfaatan teknologi (Wardina et al., 2019).
Oleh karena era
industry 4.0 menuntut kompetisi global maka kita harus mempersiapkan mental dan
skill yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari
lainnya. Salah satu bentu umtuk mempersiapkan skill yang paling mudah ditempuh
adalah mempunyai perilaku yang baik (behavioral attitude), menaikan kompetensi
diri dan memiliki semangat literasi. Bekal persiapan diri tersebut dapat
dilalui dengan jalur pendidikan (long life education) dan konsep diri melalui
pengalaman bekerjasama lintas generasi/ lintas disiplin ilmu (experience is the
best teacher). McKinsey (2006). Maka yang penting diperhatikan adalah bahwa
suatu sistem pendidikan beserta semua unsur pendukungnya harus dibangun guna
menyiapakan peserta didik sebagai pribadi yang siap pakai pada posisi tertentu (dalam Yakin, 2019).
Sistem pendidikan di
era industry 4.0 juga memperngaruhi perubahan tempat belajar, yakni transisi
dari era analog ke era digital, juga dianggap penting. Di era digital,
lingkungan belajar harus diselaraskan dengan pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi, misalnya internet dan cybernet, yang memungkinkan
pemelajarbelajar secara mandiri, dinamis dan tidak terikat oleh hanya satu
tempat dan satu sumber belajar, bahkan tidak tergantung pada guru pengajarnya
saja, tetapi siswa dapat belajar dari banyak guru, berbagai sumber di dunia
maya.Sistem manajemen kelas guru dengan lingkungan digital menyebabkan guru
menerapkan konsep multy channel learning yang memperlakukan siswa sebagai
pemelajardinamis yang dapat belajar dimana saja, kapan saja, dari siapa saja,
dari berbagai sumber di mana saja. Kompetensi guru sebagai fasilitator
mendukung siswa dalam belajar sesuai dengan tuntutan digital di dunia industry
4.0. (Bastian, Aulia Reza.:2002). Hal ini juga tentu memperngaruhi dunia
pendidikan sehingga orientasi mengajar guru berbasis teknologi informasi dan
komunikasi dan masyarakat digital dewasa ini (dalam Yakin, 2019).
B. Rumusan Masalah
1) Apa
pengertian era refolusi industri 4.0 ?
2) Apa saja
kurikulum pendidikan era refolusi 4.0.
3) Apa saja prinsip
pembelajaran pendidikan era refolusi 4.0.
4)
Apa saja tantangan dan peluang pendidikan di era
refolusi 4.0.
5) Apa saja manajemen kelas dalam pendidikan di era refolusi 4.0.
C. Tujuan Penulisan
1)
Mengetahui dan memahami pengertian era refolusi
industri 4.0.
2)
Mengetahui dan memahami kurikulum pendidikan era refolusi 4.0.
3)
Mengetahui dan prinsip pembelajaran pendidikan era
refolusi 4.0.
4) Mengetahui dan memahami tantangan dan peluang pendidikan di era refolusi 4.0.
5) Mengetahui dan memahami manajemen kelas dalam pendidikan di era refolusi 4.0.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Era Refolusi Industri 4.0
Konsep revolusi
industri 4.0 ini merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor
Klaus Schwab. Beliau merupakan ekonom terkenal asal Jerman sekaligus penggagas
World Economic Forum (WEF) yang melalui bukunya, The Fourth Industrial Revolution,
menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara
kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain.9 Richard Mengko,
yang mengutip dari A.T. Kearney dalam Stevani Halim (Medium, 2018),10
menggambarkan empat tahap evolusi industri. Pertama, Revolusi industri yang
pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Hal ini ditandai dengan ditemukannya
alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Kedua, Revolusi industri 2.0
terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan
pembagian kerja. Ketiga, Awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan
revolusi industri 3.0 yang dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi
informasi guna otomatisasi produksi. Terakhir, 2018 hingga sekaranglah zaman
revolusi industri 4.0 (Rahman & Nuryana, 2019).
Revolusi Industri 4.0
adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi
cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi
manufaktur. Termasuk sistem cyber-fisik, Internet of Things (IoT), Komputasi
awan dan komputasi kognitif. konselir Jerman, (Humaidi, 2019) berpendapat bahwa
Industri 4.0 adalah transformasi
komprenhensif dari kesuluruhan aspek produksi di industri melalui
penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional.
Menurut (Mubyarto & Sohibien, 2020) bahwa Revolusi Industri 4.0 adalah
sebuah era industri digital dimana seluruh bagian yang ada di dalamnya saling
berkolaborasi dan berkomunikasi secara real time dimana saja kapan saja dengan
pemanfaatan IT (teknologi informasi) berupa internet dan CPS, IoT dan IoS guna
menghasilkan inovasi baru atau optimasi lainnya yang lebih efektif dan efisien (Putriani & Hudaidah, 2021).
(Nulngafan &
Khoiri, 2021) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama,
interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang
untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things
(IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi,
keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem
informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model
digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi.
Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk
mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar
untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu
singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai
tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c)
meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang
merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan
menjalankan tugas seefektif mungkin (Putriani & Hudaidah, 2021).
Ciri ciri Era Revolusi
industri 4.0 adalah pertama robot outomation yaitu artinya proses produksi
tidak lagi mengandalkan massa (jumlah manusia) namun digantikan dengan sistem
robot. Hal ini dikarenakan dengan sistem robot dapat lebih bekerja efektif dan
efisien dibandingan jika diakukan oleh manusia. Ciri ke dua adalah 3D printer
yang memungkin mencetak tidak lagi hanya untuk object 2D namun sekarang rumah
pun sudah dapat dicetak menggunakan mesin 3D printer. Ciri ke tiga adalah
internet of thing yaitu kecepatan yang dikendalikan oleh internet. Saat ini
semua pekerjaan hampir semua terhubung dengna koneksi internet. Ciri ke empat adalah big data. Pernahkah kita
disodori oleh iklan mengenai barang barang kesukaan kita? Bagaimana sistem itu
tahu karena terdapat sebuah data yang mengkoleksi informasi kita (Kosturos, 2012).
Pendidikan 4.0 adalah istilah umum yang
digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara
untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam
pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0. Pendidikan 3.0 mencakup
pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan
digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan
lunak.22 Pendidikan 4.0 merupakan
fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0,
di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan
berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi
baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern.
Abad ke-21 sebagai abad
keterbukaan atau globalisasi. Karena itu, muatan pembelajaran diharapkan mampu
memenuhi 21st century skills, yakni:
1) Pembelajaran
dan keterampilan inovasi meliputi penguasan pengetahuan dan keterampilan yang
beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian
masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi,
2) Keterampilan
literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT.
3) Karir
dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif,
interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan
dan tanggung jawab.
B. Kurikulum Pendidikan Era Refolusi 4.0
Revolusi Industri 4.0
mengaitkan teknologi yang super cepat akan membawa perubahan yang cukup
signifikan, salah satunya terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan
dalam sistem pendidikan tentunya akan berdampak pula pada rekonstruksi
kurikulum, peran guru sebagai tenaga pendidik dan pengembangan teknologi
pendidikan yang berbasis ICT. Ini adalah tantangan baru untuk merevitalisasi
pendidikan, guna menghasilkan orang-orang cerdas, yang kreatif dan inovatif serta
mampu berkompetisi secara global. Banyak kajian mengemukakan bahwa implementasi
kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi
berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik pada pemahaman ilmu dalam
konteks praktik hidup dan keseharian, namun hanya berkisar pada target
pencapaian kompetensi peserta didik yang digambarkan pada nilai-nilai akademik
semata (Kosturos, 2012).
Menurut (Sajidan,
baedhowi, triyanto, salman A.T, 2018) penyelarasan pembelajaran dalam tataran
praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum menjadi fokus pertama
penyelesaian ‘pekerjaan rumah dalam bidang pendidikan. Kebijakan kurikulum
harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan
hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif.
Mengedepankan ‘soft skills’ dan ‘transversal skills’, keterampilan hidup, dan
keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan
akademis tertentu. Namun, bermanfaat luas pada banyak situasi pekerjaan layaknya
kemampuan berpikir kritis dan inovatif, keterampilan interpersonal, warga
negara yang berwawasan global, dan literasi terhadap media dan informasi yang
ada (Putriani & Hudaidah, 2021).
Sudah waktuya kurikulum
di review dan secara bertahap mengembangkan kurikulum pendidikan yang mampu
mengarahkan dan membentuk peserta didik siap menghadapi era revolusi industri
dengan penekanan pada bidang Sains, Technology, Engineering and Mathematic atau
STEM. Kurikulum sudah harus mengacu pada pembelajaran dalam teknologi
informasi, internet of things, big data dan komputerisasi, serta
entrepreneurship dan internship. Ini perlu menjadi kurikulum wajib guna
menghasilkan lulusan terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan
literasi manusia (Putriani & Hudaidah, 2021).
Revolusi industri 4.0
memberikan pengaruh yang besar pada berbagai bidang, namun tidak untuk tiga
bidang profesi berikut, yaitu bidang pendidikan (guru), bidang kesehatan
(dokter, perawat) dan kesenian (seniman). Peran guru secara utuh sebagai
pendidik, pengajar, pembimbing, "orang tua" di sekolah tidak akan
bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan
seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa
dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi (Kosturos, 2012).
Meskipun profesi guru
tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri
4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus
meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan
sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Karena itu, selain pendapat Wahyuni
(2018) dan Latip (2018) sebagaimana dijelaskan sebelumnya, menurut hemat
penulis sikap atau skill lainnya yang perlu dimiliki guru dalam menghadapi era
Industri 4.0, adalah antara lain dalam (Kosturos, 2012):
1. Bersahabat
dengan Teknologi
Dunia selalu berubah dan berkembang
ke level yang lebih tinggi, salah satu perubahannya ditandai oleh kemajuan
teknologi. Setiap orang tidak akan mampu melawan kemajuan teknologi, karena itu
agar tidak tergilas olehnya, guru wajib memiliki kemauan untuk belajar
terusmenerus. Perubahan dunia oleh kemajuan teknologi tidak perlu dijadikan
sebagai ancaman, namun dihadapi dengan positif, belajar dan beradaptasi, serta
mau berbagi dengan teman sejawat atau kolega baik kesuksesan maupun kegagalan.
2. Kerjasama
(Kolaborasi)
Hasil yang maksimum akan sulit
dicapai bila dikerjakan secara individu tanpa kerjasama atau berkolabrasi
dengan orang lain. Karena itu, guru harus memiliki kemauan yang kuat untuk
berkolaborasi dan belajar dengan dan atau dari yang lain. Sikap ini sangat
diperlukan sekarang dan di masa yang akan datang. Melakukannya pun tidak
terlalu sulit, karena dunia sudah saling terhubung, sehingga tidak ada alasan
untuk tidak berkolaborasi dengan yang lain.
3. Kreatif
dan Mengambil Risiko
Kreativitas adalah salah satu skill
yang diperlukan pada Top 10 Skill 2020, kreativitas akan menghasilkan sebuah
struktur, pendekatan atau metode untuk menyelesaikan masalah dan menjawab
kebutuhan. Guru perlu memodelkan kreativitas ini dan berupaya lebih cerdas
bagaimana kreativitas ini diintegrasikan ke dalam tugas-tugas kesehariannya.
Para pendidik juga tidak perlu terlalu takut salah, namun selalu siap
menghadapi risiko yang muncul. Kesalahan adalah langkah awal dalam belajar, dan
tidak perlu menjadi faktor penghambat untuk terus maju, kesalahan adalah untuk
terus diperbaiki.
4. Memiliki
selera Humor yang Baik
Guru yang humoris biasanya guru
yang paling sering diingat oleh murid. Tertawa dan humor dapat menjadi skill
penting untuk membantu dalam membangun hubungan dan relaksasi dalam kehidupan.
Ini akan mengurangi stress dan rasa frustasi, sekaligus memberikan kesempatan
kepada orang lain untuk melihat kehidupan dari sisi lain.
5. Mengajar
secara Utuh (Holistik)
Dalam berbagai teori belajar dan
pembelajaran kita mengenal pembelajaran individual dan kelompok. Dan,
akhir-akhir ini, gaya belajar dan pembelajaran yang bersifat individu, semakin
meningkat. Karena itu, guru jaman now perlu mengenali siswa secara individu,
termasuk keluarganya dan cara mereka belajar (mengenalnya secara utuh, termasuk
kendala-kendala yang dialaminya baik secara pribadi maupun di dalam
keluarganya).
C. Prinsip Pembelajaran Pendidikan Era Refolusi 4.0
Prinsip pokok pembelajaran 4.0 dapat
dikembangkan dan dijelaskan sebagai berikut (Putriani & Hudaidah, 2021):
Ø Instruction
should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran semestinya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalahmasalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior
knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan
dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan
gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas
proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai
pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam
proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
Ø Education
should be collaborative
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan
orangorang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya.
Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa
berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek,
siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang
serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan
mereka. Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat
bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia
untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode
pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan
perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
Ø Learning
should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
Ø Schools
should be integrated with society
Dalam upaya
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa
dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat,
seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk
melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
D. Tantangan dan Peluang Pendidikan di Era Refolusi 4.0
Pendidikan adalah sektor yang
dianggap paling bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi
masa depannya, bagaimanapun bentuknya. Pada masa yang akan datang, tantangan
hidup tidak akan mudah, bahkan semakin susah. Susah dalam artian penuh
tantangan dan persaingan. Dalam kaitannya dengan perubahan kehidupan global
yang semakin cepat, diperlukan langkah-langkah antisipatif oleh pemerintah
melalui pengembangan kurikulum yang didasari oleh kondisi-kondisi internal
maupun eksternal. Persiapan untuk sukses di era revolusi industri 4.0 dan era
disruptif tersebut telah dilaksanakan oleh pemerintah melalui jalur pendidikan,
seperti terdapat dalam kurikulum (Malingkas, 2019). Contoh di perguruan tinggi,
setiap lulusannya harus memiliki minimal empat kompetensi, yaitu academic
knowledge, skills of thinking,
management skills, serta
communication skills (Siswati, 2019).
Keempat kompetensi tersebut menyatu
dalam diri seorang lulusan perguruan tinggi. Jika tidak lengkap, maka akan
berpengaruh terhadap kualitas diri lulusan tersebut. Demikian juga dengan kurikulum pada jenjang
pendidikan dasar (SD dan SMP) dan pendidikan menengah (SMA/SMK). Pemberlakuan
Kurikulum 2013 dengan ciri utamanya scientific approach dan pengalaman belajar
5M, terdapat ruang yang cukup untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi
dalam pembelajaran. Dalam learning experiences dengan pola lima “M” terdapat
“M” mengkomunikasikan yang berarti siswa dimotivasi dan didorong untuk aktif
menyampaikan pertanyaan, pandangan serta ide-ide terkait permasalahan yang
sedang dicarikan solusinya dalam pembelajaran. Dalam standar proses pelaksanaan
pembelajaran Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa pembelajaran harus bersifat
interaktif. Hal tesebut berati bahwa terjalin komunikasi yang efektif dalam
pembelajaran (Siswati, 2019).
Terlihat bahwa di masa datang,
apapun nama eranya akan sangat membutuhkan manusia yang memiliki keterampilan
komprehensif, baik hard skills, soft skills, dan life skills yang termasuk
didalamnya adalah keterampilan berkomunikasi dan public speaking (Yahya, 2018).
Tugas-tugas yang memerlukan keahlian berpikir (expert thinking) dan komunikasi
yang kompleks (complex communication) menjadi sangat penting bagi setiap orang
di masa depan (Levy and Murnane, 2004) dalam (Siswati, 2019).
Satu lagi yang perlu menjadi
perhatian dunia pendidikan adalah pendapat Wagner (2008) yang mengungkapka ada
tujuh keterampilan abad 21 yang harus dimiliki (The Survival Skills for 21
Century) (Siswati, 2019), yaitu:
(1) Critical thinking and problem solving
(2) Collaboration
(3) Agility and adaptability
(4) Initiative and enterpreneurialism
(5) Effective oral and written communication
(6) Accessing
and analyzing information dan
(7) Curiosity and imagination.
Tantangan revolusi industri 4.0
sebagai berikut:
(1) Masalah keamanan teknologi informasi
(2) Keandalan dan stabilitas mesin produksi
(3) Kurangnya keterampilan yang memadai
(4) Keengganan untuk berubah oleh para pemangku
kepentingan
(5) Hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi
otomatisasi.
Muatan pembelajaran abad 21 harus
selalu menyesuaikan dengan perubahan, termasuk di era revolusi industri 4.0.
Muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 (Kusumah,
2019) . Keterampilan abad 21 (21 century skills) tersebut meliputi dalam (Siswati, 2019):
(1)
Pembelajaran dan keterampilan inovasi, meliputi
penguasan pengetahuan dan
keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi,
berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta
kreativitas dan inovasi.
(2)
Keterampilan literasi digital, meliputi literasi
informasi, literasi media, dan literasi teknologi komputer.
(3) Karier dan kecakapan hidup, meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab.
E. Manajemen Kelas dalam Pendidikan di Era Refolusi 4.0
Manajemen kelas menurut
beberapa ahli sebagai berikut: “manajemen kelas merupakan masalah tingkah laku
yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan
pengajaran secara efesien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Djamarah dan
Zain (2017:173). Selanjutnya, Suparta, et.all. (2002:205) mengatakan bahwa
manajemen kelas adalah usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi
yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan berhasil.
Sedangkan Simonsen et.all.(2008), mengatakan bahwa manajemen kelas yang baik
memiliki limaaspek, yaitu memaksimalkan struktur, membuat dan menerapkan
harapan, melibatkan siswa secara aktif, menggunakan rangkaian strategi untuk
memperkuat dan melemahkan perilaku siswa. Kelima aspek ini penting diterapkan
agar tercipta suasana kondusif dalam belajar (dalam Yakin, 2019).
Senada dengan beberapa
pengertian tersebut, Wiyani (2013:59) berpendapat bahwa “Manajemen kelas adalah
keterampilan guru sebagai seorang leader sekaligus manajer dalam menciptakan
iklim kelas yang kondusif untuk meraih keberhasilan kegiatan belajar-mengajar.
Sebagai seorang leader di kelas, guru berupaya memotivasi peserta didik serta
menanamkan nilainilai kebaikan yang harus diyakini dan diaplikasikan oleh
peserta didik” (dalam Yakin, 2019).
Adapun tujuan manajemen
kelas adalah:
a) Memudahkan
kegiatan belajar peserta didik.
b) Mengatasi
hambatan-hambatan yang menghalangi terwujudnya interaksidalamkegiatan
belajar mengajar.
c) Mengatur
berbagai penggunaan fasilitas belajar.
d) Membina
dan membimbing peserta didik sesuai dengan berbagai latarbelakang sosial,
ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
e) Membantu
peserta didik belajar dan bekerja sesuai dengan potensi dankemampuan yang
dimilikinya.
f) Menciptakan
suasana sosial yang baik di dalam kelas.Rusydie (Wiyani, 2013:61) (dalam Yakin, 2019)
Ada beberapa acuan
untuk mewujudkan manajemen kelas yang efektif yaitu:
a) Mengkaji
bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan.
b) Mengakaji
bentuk-bentuk pengelolaan kelas.
c) Memperhatikan
hal-hal pengelolaan kelas terkait dengan pemberian danmembangkitkan perhatian
dan motivasi peserta didik, mengembangkankeaktifan dalam pembelajaran,
keterlibatan langsung peserta didik,pemberian pengulangan, pemberian tantangan
belajar, pemberian balikandan penguatan, serta perbedaan individual siswa.
d) Mengidentifikasikan
permasalahan dan hambatan.
e) Membahas
dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencarialternatif pemecahannya.
f) Menyusun
rencana kerja. Agung (2010: 57) (dalam Yakin, 2019)
Tantangan era industri
4.0 mengakibatkan guru semakin kompetitif dan meningkatkan kompetensinya dalam
juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak
hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan
cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Untuk bisa menghadapi
semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana
menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Salah satu kualitas yang diperhitungkan agar
dapat menjadi guru digital yatu dengan menerapkan kelas digital dalam proses
pembelajarannya. Kelas digital adalah pembelajaran yang dilakukan dengan
menggunakan internet dan teknologi digital lainnya dalam persiapan,
pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran baik oleh guru, siswa, maupun orang tua
siswa sehingga antar pembelajar tidak harus secara fisik mengikuti pembelajaran
di dalam kelas (dalam Yakin, 2019).
Jenis-Jenis Pengelolaan
Kelas Digital sebagai berikut:
a) Learning
Management System (LMS)
LMS adalah suatu perangkat lunak
atau software untuk keperluan administrasi, dokumentasi, laporan sebuah kegiatan,
kegiatan belajar mengajar dan kegiatan secara online (terhubung ke internet),
E-learning dan materi-materi pelatihan.
b) Learning
Content Management System (LCMS)
LCMS adalah aplikasi komputer yang
digunakan untuk membuat, memperbaharui, mengelola atau mempublikasikan isi
dalam sebuah sistem yang teroganisir dan konsiten yang bisa diakses dari
intranet di jaringan lokal atau internet. LCMS digunakan untuk menyediakan,
mengawasi, memperinci dan mempublikasikan dokumen-dokumen spesifik seperti
artikel, manual operator, manual teknis, panduan penjualan dan brosur
penjualan. Sebuah LCMS dapat berisi file komputer, gambar, audio, video,
dokemen elektronik dan isi website.
c) Social
Learning Network (SLN)
SLN adalah jejaring sosial untuk
pembelajaran yang terjadi pada skala yang lebih luas daripada kelompok belajar.
Mengingat skala sosialnya yang lebih besar, media ini bagi sebagian peserta
dapat menyebabkan perubahan sikap dan perilaku, sedangkan bagi sebagian yang
lain tidak menimbulkan dampak apa-apa. Pengelolaan kelas digital yang biasa
digunakan dalam proses pembelajaran adalah SLN (Social Learning Network)
seperti Sophia, Remix Learning, Schoology, dan Edmodo (dalam Yakin, 2019).
Wujud kelas digital
yang diimplementasikan dalam pembelajaran telah dirumuskan oleh SEAMOLEC
(SEAMEO Regional Open Learning Centre) yaitu:
Ø Pembuatan
Buku Digital (kombinasi teks, video, dan gambar pada halaman tertentu buku)
Ø Aplikasi
Sistem dalam kelas misal: Edmodo, Gnomio, google classroom.
Ø Vicon
(video conference) dari HP/Laptop antar guru dengan Webex Kelas digital
memerlukan perubahan budaya yang mendasar pada sekolah sehingga harus dilakukan
secara bertahap.
Tahap awal adalah
pembuatan soal bersama oleh guru atau dosen untuk ulangan harian yang mengacu
pada prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dengan menggunakan internet
(menggunakan aplikasi) soal ulangan dapat diset sesuai dengan waktu yang
diinginkan, misalnya soal dibuka jam 08.00 s.d. 21.00 selama 5 hari. Soal
teracak secara otomatis dan dapat di kerjakan oleh siswa di seluruh Indonesia
maupun di luar negeri dimana internet bisa diakses. Disamping guru dan siswa
orang tua juga bisa melihat aktivitas yang dilakukan anak (soal yang telah
dikerjakan dan nilai yang didapat) di Edmodo. Tahap ini merupakan langkah awal
untuk menanamkan budaya ICT (Information and Communication Technology) (dalam Yakin, 2019).
Selanjutnya guru dapat membuat materi pelengkap buku teks kemendikbud dalam bentuk digital (kombinasi teks, video dari hp dan gambar) ketika menyusun RPP kemudian di upload sehingga guru-guru yang lain bisa mengkombinasikan. Buku digital ini juga bisa mengambil sumber dari Rumah Belajar ataupun sumber lain. Dengan menggunakan fasilitas Webex guru dapat melakukan vicon (video conference) dari HP atau laptop dimana guru bisa saling melihat video mereka, mendengar suara, dan melakukan tanya jawab. Vicon dapat meminimalisir pertemuan secara langsung yang memerlukan waktu dan tempat, pertemuan bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan menggunakan vicon (dalam Yakin, 2019).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan di era revolusi industri 4.0
dipandang sebagai pengembangan tiga kompetensi besar abad ke-21, yakni
kompetensi berpikir, bertindak dan hidup di dunia. Sistem pembelajaran pada
masa revolusi 4.0 yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama,
keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, dengan
beberapa aspek dan komponen pembelajaran pendidikan 4.0. Untuk menghadapi
pembelajaran di revolusi industri 4.0, setiap orang harus memiliki keterampilan
berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi,
literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi.
Kelas digital dapat dijadikan solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat lebih fleksibel dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. Kompetensi guru dalam penguasaan TIK masih sangat terbatas, sehingga perlu dirancang suatu pelatihan kelas digital (digital class) bagi guru dan dosen. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan dan melatih guru dan dosen dalam menggunakan pembelajaran kelas maya atau kelas digital(digital class) dalam proses pembelajaran. Kelas digital (digital class) dapat dimanfaatkan guru baik dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi proses pembelajaran tanpa harus bertatap muka baik dengan teman sejawat maupun siswa.
DAFTAR PUSTAKA
dalam Yakin, A. Al. (2019). Manajemen Kelas di Era
Industri 4.0. Journal Peqguruang: Conference Series, 1(2), 9–12.
http://journal.lppm-unasman.ac.id/index.php/peqguruang/article/view/328
Kosturos, N. (2012). What Drives Russia’s Unrelenting
Position on Syria? Center for American Progress, 1.
https://www.academia.edu/38353914/Analisis_Pendidikan_Indonesia_di_Era_Revolusi_Industri_4.0.pdf
Putriani, J. D., & Hudaidah. (2021). Penerapan Pendidikan
Indonesia di Era Revolusi Industri 4 . 0. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan,
3(3), 831–838.
Rahman, A., & Nuryana, Z. (2019). Pendidikan Islam di
Era Revolusi Industri 4.0. 34–0. https://doi.org/10.31219/osf.io/8xwp6
Siswati, S. (2019). Pengembangan Soft Skills Dalam Kurikulum
Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 17(2),
264. https://doi.org/10.31571/edukasi.v17i2.1240
Wardina, U. V., Jalinus, N., & Asnur, L. (2019).
Kurikulum Pendidikan Vokasi Pada Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal
Pendidikan, 20(1), 82. https://doi.org/10.33830/jp.v20i1.843.2019